Di era ketika kecepatan mengalahkan kedalaman, ketika popularitas lebih dihargai daripada integritas, dan ketika hidup sering kali kehilangan arah spiritualnya, hijrah menjadi bentuk perlawanan paling tenang namun paling bermakna. Ia adalah cara seorang manusia menolak menjadi sekadar bagian dari arus yang melalaikan. Hijrah berarti berani melawan kehampaan modern dengan kesadaran batin, menentang kelalaian dengan keimanan, dan mengganti kebisingan dunia dengan keheningan jiwa yang terarah kepada Tuhan.
Bagi sebagian orang, hijrah disalahpahami sebagai pelarian dari realitas. Padahal, hijrah sejati justru membutuhkan keberanian untuk menghadapi dunia dengan hati yang baru. Ia bukan tindakan lari, tetapi langkah maju ke arah yang lebih benar. Orang yang berhijrah tidak sedang kabur dari tanggung jawab, tetapi sedang membangun fondasi baru agar tanggung jawabnya lebih bermakna.
Ia meninggalkan bukan karena benci, tapi karena ingin memperbaiki. Ia menjauh bukan karena lemah, tapi karena ingin kembali dengan jiwa yang lebih kuat. Sebab hijrah bukan titik akhir; ia adalah awal dari perlawanan panjang melawan kebodohan, keserakahan, dan kekosongan yang melanda hati manusia modern.
Kekosongan zaman hari ini tidak selalu tampak dalam bentuk kemiskinan materi, melainkan dalam kelaparan makna. Generasi kini memiliki segalanya, seperti kemudahan, akses, kebebasan tetapi justru sering kali kehilangan arah. Hidup berjalan cepat, tapi hati tertinggal. Teknologi mendekatkan manusia secara virtual, tapi menjauhkan secara spiritual.
Dalam dunia yang menyanjung citra dan kecepatan, hijrah menjadi bentuk penolakan terhadap gaya hidup yang dangkal. Ia adalah deklarasi batin bahwa manusia tidak bisa hidup hanya dengan gawai, angka, dan citra sebab ia butuh makna, arah, dan kedekatan dengan Sang Pencipta. Maka hijrah menjadi semacam revolusi sunyi, yaitu revolusi yang tidak mengguncang dunia luar, tapi mengguncang dunia batin.
Perlawanan ini dimulai dari diri sendiri. Hijrah adalah perang melawan musuh yang paling sulit ditaklukkan: ego. Dunia modern mengajarkan manusia untuk mencintai dirinya berlebihan demi untuk selalu mencari validasi, untuk merasa selalu benar, untuk hidup demi pandangan orang lain. Sedangkan hijrah mengajarkan sebaliknya, yaitu untuk melepaskan kelekatan itu, untuk belajar tunduk kepada kebenaran yang lebih tinggi dari diri sendiri.
Orang yang berhijrah tidak sekadar mengubah gaya hidup, tapi juga mengubah poros hidupnya, dari “aku” menuju “Allah”. Itulah perlawanan sejati dengan menaklukkan keakuan yang sombong agar hati bisa kembali jernih. Karena sesungguhnya, tidak ada tirani yang lebih kuat dari kesombongan diri, dan tidak ada pembebasan yang lebih besar daripada berserah kepada Tuhan.
Dalam konteks sosial, hijrah juga menjadi bentuk protes moral terhadap krisis nilai zaman ini. Dunia kini penuh dengan absurditas, seperti kebenaran dikaburkan oleh opini, moral digantikan oleh tren, dan agama kadang direduksi menjadi identitas yang dangkal. Di tengah situasi seperti itu, hijrah menjadi pilihan sadar untuk tidak larut. Ia adalah sikap kritis terhadap budaya konsumerisme, narsisisme, dan relativisme yang menjadikan manusia kehilangan pusat spiritualnya.
Orang yang berhijrah memilih untuk hidup dengan kesadaran dengan menolak gaya hidup instan yang menipu, menolak mengukur kebahagiaan dengan materi, dan menolak menukar prinsip dengan popularitas. Hijrah adalah cara untuk berkata, “Aku tidak akan ikut arus yang membuatku lupa siapa aku.” Namun perlawanan ini bukan perlawanan yang marah atau agresif.
Hijrah tidak berteriak, tapi menenangkan. Ia bukan perlawanan yang menghancurkan, melainkan yang membangun. Ia tidak dimulai dari revolusi sosial yang bising, tetapi dari revolusi batin yang sunyi. Orang yang berhijrah tidak menganggap dunia musuh, tetapi medan dakwah yaitu ruang untuk menebar kebaikan, bukan kebencian.
Ia tidak menolak kemajuan, tetapi mengarahkan kemajuan agar tetap berjiwa. Ia tidak anti terhadap modernitas, tetapi menolak modernitas yang kehilangan moralitas. Ia hidup di tengah dunia yang gaduh, namun hatinya tetap hening karena tahu bahwa perjuangan sejati bukan memenangkan argumen, melainkan menjaga niat agar tetap suci.
Hijrah juga merupakan bentuk pencarian makna di tengah banjir informasi. Di zaman ketika kebenaran bisa dibelokkan dengan algoritma, ketika manusia lebih sibuk membangun citra daripada membangun jiwa, hijrah menjadi ruang untuk kembali jujur. Ia mengajarkan keberanian untuk berhenti sejenak, menatap diri sendiri, dan bertanya: “Untuk apa semua ini?”
Pertanyaan sederhana tapi sering dihindari, karena terlalu dalam untuk dijawab dengan kata-kata. Orang yang berhijrah tidak mencari kesempurnaan, tapi keaslian. Ia ingin menjadi manusia yang hidup dengan hati, bukan dengan topeng. Di dunia yang serba instan, hijrah menanamkan nilai kesabaran; di dunia yang menuhankan angka, hijrah menumbuhkan nilai makna.
Zaman kekinian juga menumbuhkan ilusi kebebasan bahwa kebahagiaan bisa dicapai dengan melakukan apa pun yang diinginkan. Namun kebebasan tanpa arah justru melahirkan kekosongan. Manusia menjadi budak keinginan sendiri. Ia berpikir telah bebas, padahal sedang terpenjara oleh ego dan hawa nafsu. Hijrah datang sebagai bentuk pembebasan dari ilusi itu. Ia mengajarkan bahwa kebebasan sejati bukan berarti bebas dari aturan, tetapi bebas dari perbudakan hati terhadap dunia.
Orang yang berhijrah mungkin terlihat membatasi diri, tetapi justru di situlah ia menemukan kedamaian. Ia memilih batas bukan karena takut, melainkan karena ingin menjaga kebebasan yang lebih hakiki, yaitu kebebasan untuk tenang, untuk sadar, untuk tetap manusiawi di tengah dunia yang serba artifisial.
Perlawanan hijrah tidak berhenti pada perubahan pribadi. Ia meluas menjadi energi sosial yang menular. Anak muda yang berhijrah sering kali membawa gelombang positif di lingkungannya: mengajak teman-temannya untuk berpikir lebih dalam, untuk hidup lebih bijak, untuk menemukan kembali spiritualitas yang hilang.
Komunitas hijrah yang tumbuh di berbagai tempat menjadi bentuk nyata dari perlawanan yang tidak destruktif, tetapi konstruktif. Mereka menolak nihilisme dengan harapan, menolak kemalasan dengan karya, menolak kekosongan dengan nilai. Dalam kesunyian, mereka sedang membangun peradaban baru, yaitu peradaban yang tidak sekadar pintar dan cepat, tetapi juga beriman dan beradab. Namun, hijrah sebagai perlawanan tidak akan berarti apa-apa tanpa keikhlasan.
Karena di balik semua niat baik, selalu ada godaan ego yang halus, yaitu keinginan untuk dianggap saleh, untuk diakui telah berubah, untuk mendapatkan tempat di mata manusia. Maka perlawanan paling sejati dalam hijrah bukan terhadap dunia luar, tetapi terhadap bisikan dalam diri.
Iman sejati tidak tumbuh dari kebencian terhadap dunia, tetapi dari cinta kepada Tuhan yang menuntun kita memahami dunia dengan cara yang lebih bermakna. Keberanian berhijrah bukanlah keberanian meninggalkan dunia, melainkan keberanian untuk hidup di dalamnya tanpa kehilangan arah.
Hijrah adalah perlawanan yang lembut, tapi revolusioner. Ia menolak kekosongan yang ditawarkan zaman dengan menghadirkan makna yang hidup dalam dada. Ia mengajarkan bahwa di tengah hiruk pikuk modernitas, manusia masih bisa memilih untuk berhenti sejenak, menundukkan kepala, dan berkata: “Aku ingin kembali kepada-Mu, ya Allah.” Ia mengajarkan bahwa menjadi berbeda bukanlah kesalahan, selama perbedaan itu membawa ketenangan, bukan keangkuhan.
Hijrah bukanlah kabur dari dunia, melainkan cara baru untuk mencintainya, dengan hati yang bersih, niat yang jernih, dan iman yang utuh. Sebab pada akhirnya, dunia yang kehilangan Tuhan hanyalah panggung kosong dan hijrah adalah langkah berani untuk menyalakan kembali cahaya makna di atas panggung itu, agar hidup manusia tidak sekadar berjalan, tapi benar-benar menuju.





