Pemuda yang Lelah dengan Dunia, Lalu Menemukan Cinta dalam Hijrah

Terkadang dunia terasa terlalu bising bagi seorang pemuda yang tengah mencari arti hidupnya. Langit tampak abu-abu, bukan karena hujan yang turun, tetapi karena pandangan matanya telah lelah menatap hiruk-pikuk dunia yang menipu. Ia berjalan di antara keramaian, namun hatinya sunyi. Di sekelilingnya, orang-orang berlomba mengejar sesuatu yang katanya bahagia, seperi materi, pujian, dan pengakuan namun semua itu terasa hampa baginya. Ia mulai menyadari, ada ruang kosong di dadanya yang tidak bisa diisi dengan hal-hal fana. Ia berusaha menambalnya dengan pertemanan, dengan cinta yang dangkal, dengan kesibukan yang semu. Namun semakin ia berlari, semakin dalam pula jurang kesepian itu. Pada titik tertentu, ia berhenti, menatap bayangan dirinya di cermin kehidupan, dan berkata pelan, “Aku lelah.”

Kelelahan itu bukan sekadar fisik. Ia adalah penat yang berakar dari kebingungan eksistensial tentang makna hidup, tentang siapa dirinya, dan untuk apa semua ini dilakukan. Pemuda itu mulai menyadari bahwa dunia ini seperti panggung besar yang gemerlap, sebab manusia saling berkompetisi menjadi bintang paling terang, tanpa sadar bahwa cahaya mereka sesungguhnya datang dari sumber yang sama. Ia merasa seperti aktor yang kehilangan naskah, berakting tanpa arah. Maka, dalam kelelahan itu, lahirlah sebuah kesadaran baru: mungkin, selama ini ia sibuk mencari kebahagiaan di tempat yang salah.

Maka ia mulai bertanya-tanya tentang Tuhan. Tentang Sang Pencipta yang dulu ia kenal hanya sebatas nama, bukan rasa. Ia mulai menengok kembali ke masa kecilnya, ketika doa terasa begitu tulus dan suci, sebelum dunia memelintir makna iman menjadi rutinitas tanpa ruh. Dalam diam, ia mulai menyesali waktu-waktu yang terbuang untuk mengejar pujian manusia, sementara hatinya kering dari pujian kepada Tuhan. “Mungkin aku tidak kehilangan arah,” gumamnya, “mungkin aku hanya lupa jalan pulang.”

Hijrah, bagi sebagian orang, hanyalah kata yang sering diucapkan tanpa benar-benar dihayati. Namun bagi pemuda ini, hijrah adalah pertemuan antara luka dan cinta. Ia tak lagi ingin berlari dari kelelahan dunia, melainkan berjalan perlahan menuju ketenangan hakiki. Ia sadar bahwa cinta sejati bukanlah pada sosok yang memanjakan egonya, tetapi pada jalan yang menuntunnya kembali kepada Tuhan. Ia menemukan bahwa dalam setiap langkah hijrah, selalu ada dua hal yang saling berpelukan: keikhlasan dan pengorbanan. Keikhlasan untuk meninggalkan apa yang dulu dicintai, dan pengorbanan untuk mencintai apa yang dulu diabaikan.

Hari-hari pertama hijrahnya tidak mudah. Dunia lama memanggilnya dengan kenangan yang manis namun menyesatkan. Ia sering kali tergoda untuk kembali, untuk mencicipi lagi rasa yang pernah membuatnya tertawa. Namun, setiap kali itu terjadi, hatinya mengingat firman yang pernah ia baca: “Sesungguhnya, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram.” Ayat itu menjadi jangkar dalam setiap badai batinnya. Ia belajar bahwa kedamaian tidak datang dari kelimpahan, melainkan dari penyerahan. Bahwa kekuatan sejati bukanlah bertahan dalam dosa, melainkan berani melepaskannya.

Perlahan, pemuda itu menemukan makna cinta yang sesungguhnya. Cinta yang tidak menuntut, tidak melukai, dan tidak mengikat dengan hawa nafsu. Ia menemukan bahwa cinta bukan sekadar rasa yang menggetarkan dada, tetapi kekuatan yang menuntun langkah menuju kebaikan. Dalam hijrahnya, ia bertemu orang-orang baru, bukan mereka yang mengajaknya bersenang-senang tanpa arah, tetapi mereka yang mengingatkannya akan akhirat setiap kali dunia tampak begitu menggoda. Ia belajar bahwa sahabat sejati bukan yang membuatnya lupa waktu, melainkan yang membuatnya ingat kepada Allah.

Cinta dalam hijrah bukanlah pelarian dari dunia, melainkan perjalanan untuk memaknai dunia dengan cara yang lebih suci. Ia mulai melihat bahwa hidup bukanlah tentang berapa banyak yang dimiliki, melainkan berapa banyak yang bisa disyukuri. Bahwa kekayaan sejati bukan di rekening bank, melainkan di ketenangan hati. Ia menyadari bahwa “lelah” yang dulu ia keluhkan ternyata adalah panggilan kasih dari Tuhan agar ia berhenti dan kembali. Karena terkadang, Allah tidak mengirim badai untuk menghukum, tetapi untuk menuntun kapal agar berlabuh di pelabuhan yang benar. Ia mulai merasakan keindahan dalam kesederhanaan, menemukan ketenangan dalam sujud, dan merasakan cinta dalam setiap air mata tobat yang jatuh di sepertiga malam.

Ada malam-malam di mana ia menangis, bukan karena kehilangan dunia, tetapi karena baru sadar betapa lama ia meninggalkan Tuhan. Ia merasa kecil, rapuh, namun anehnya justru dalam kerendahan itu, ia menemukan kemuliaan. Ia menyadari bahwa cinta Tuhan adalah cinta yang tak pernah memalingkan wajah, bahkan ketika hamba-Nya berpaling ribuan kali. Ia mengerti kini mengapa para ulama berkata, “Hijrah bukan hanya meninggalkan yang buruk, tetapi juga meninggalkan diri yang lama.” Sebab terkadang, musuh terbesar bukanlah dunia di luar sana, melainkan ego di dalam dada.

Dalam perjalanan itu, pemuda ini tidak berubah secara instan. Ada hari-hari di mana ia merasa kuat, namun ada pula hari-hari di mana ia kembali terjatuh. Tetapi kali ini, ia tidak lagi menyerah. Ia tahu bahwa Allah tidak menilai dari seberapa cepat seseorang berubah, melainkan dari seberapa besar usahanya untuk tidak berhenti. Ia belajar mencintai proses, bukan hasil. Ia memahami bahwa hijrah bukan tentang kesempurnaan, tetapi tentang keberanian untuk memulai, meskipun dengan langkah yang goyah. Ia menulis dalam catatannya, “Aku tidak sedang menjadi malaikat, aku hanya sedang belajar menjadi manusia yang lebih baik.”

Dan di tengah perjalanan itu, datanglah cinta yang lain, cinta manusiawi yang lahir bukan dari nafsu, melainkan dari iman. Ia bertemu seseorang yang tidak hanya membuatnya tersenyum, tetapi juga membuatnya ingin semakin dekat kepada Allah. Bukan cinta yang membutakan, tetapi yang menuntun pandangan ke arah yang benar. Ia merasakan indahnya mencintai tanpa harus memiliki, karena ia tahu bahwa cinta sejati tidak harus berakhir di pelaminan, asalkan berawal dan berakhir di jalan Tuhan. Ia memahami bahwa cinta yang diberkahi adalah cinta yang menumbuhkan, bukan yang menenggelamkan.

Seiring waktu, dunia tidak lagi terasa seberat dulu. Ia masih hidup di tengah hiruk-pikuk yang sama, namun kali ini dengan hati yang berbeda. Ia menyadari bahwa dunia tidak berubah, yang berubah adalah cara pandangnya. Jika dulu dunia adalah beban, kini dunia adalah ladang amal. Jika dulu kesuksesan diukur dengan harta, kini kesuksesan diukur dengan ridha. Ia mulai memahami bahwa hijrah bukan berarti membenci dunia, tetapi mencintainya dengan cara yang lebih bijak, sebagaimana seorang petani mencintai tanahnya, bukan karena kekayaannya, tetapi karena darinya ia bisa menanam amal yang kelak dipanen di akhirat.

Ia menulis lagi dalam catatannya: “Dulu aku lelah karena mengejar dunia, kini aku tenang karena berjalan bersama Tuhan.” Kalimat itu menjadi semacam mantra pengingat dalam setiap langkahnya. Ia sadar, hijrah tidak membuat hidup tanpa ujian. Justru, hijrah mengundang ujian yang lebih besar, agar iman semakin kokoh. Tapi kini, setiap ujian tidak lagi dilihat sebagai hukuman, melainkan tanda kasih. Ia belajar bahwa cinta sejati Allah tidak selalu diwujudkan dalam kemudahan, tetapi sering kali dibungkus dalam kesulitan agar manusia kembali bersujud.

Pemuda itu kini bukan lagi sosok yang berlari tanpa arah. Ia berjalan dengan keyakinan bahwa setiap langkah kecilnya menuju Allah lebih bermakna daripada seribu langkah besar menuju dunia. Ia tahu, kadang hijrah terasa sepi, tetapi di dalam kesepian itu tumbuh kedekatan yang dalam dengan Tuhan. Ia percaya, tidak ada air mata yang sia-sia jika jatuh di sajadah. Tidak ada kehilangan yang benar-benar rugi jika diganti dengan ketenangan iman. Ia menemukan bahwa hidup ternyata bukan tentang memiliki segalanya, tetapi tentang mampu melepaskan apa yang tidak membawa kita kepada-Nya.

Dalam setiap sujud, ia berbisik pelan, “Ya Allah, aku telah lelah mencintai dunia yang sementara. Ajarkan aku mencintai-Mu dengan cara yang kekal.” Dan mungkin, di situlah puncak perjalanan hijrah: ketika cinta kepada Tuhan tidak lagi menjadi teori, tetapi menjadi nafas. Ketika hidup tidak lagi dijalani dengan ketakutan kehilangan, melainkan dengan keyakinan bahwa apa pun yang hilang akan diganti dengan sesuatu yang lebih baik. Ia mengerti kini bahwa hijrah adalah bentuk tertinggi dari cinta, karena di dalamnya ada pengorbanan, kesetiaan, dan harapan yang tidak pernah padam.

Maka, jika suatu hari dunia kembali menawarinya gemerlap, ia hanya akan tersenyum. Sebab ia tahu, tidak ada cahaya yang lebih indah daripada cahaya iman. Tidak ada cinta yang lebih hangat daripada cinta yang membuatnya sujud lebih lama. Ia kini paham bahwa hijrah bukan akhir, melainkan awal dari perjalanan panjang menuju cinta sejati. Dan dalam setiap langkahnya, ia membawa sebaris doa yang menjadi mutiara kehidupannya: “Aku bukan siapa-siapa, tapi aku ingin menjadi seseorang di hadapan-Mu, ya Rabb. Aku pernah lelah dengan dunia, tapi kini aku jatuh cinta pada-Mu dalam setiap hijrahku.”

Related Posts

Hijrah Bukan Tentang Meninggalkan Dunia, Tapi Mengubah Cara Menyikapinya

Dunia tidak pernah benar-benar menjadi musuh manusia, karena di dalamnya terdapat ayat-ayat Tuhan yang tersebar dalam bentuk pengalaman, kejadian, dan peluang untuk berbuat baik. Yang menjadi masalah bukanlah keberadaan dunia…

Influencer Dakwah dan Godaan Popularitas Spiritual

Fenomena influencer dakwah adalah salah satu wajah baru dari zaman modern yang memadukan agama dengan teknologi. Di satu sisi, ia menjadi pintu kebaikan yang luar biasa dengan membawa pesan-pesan Ilahi…

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You Missed

Hijrah Bukan Tentang Meninggalkan Dunia, Tapi Mengubah Cara Menyikapinya

Hijrah Bukan Tentang Meninggalkan Dunia, Tapi Mengubah Cara Menyikapinya

Influencer Dakwah dan Godaan Popularitas Spiritual

Influencer Dakwah dan Godaan Popularitas Spiritual

Ketika Hijrah Membawa Kedamaian, Bukan Kebencian

Ketika Hijrah Membawa Kedamaian, Bukan Kebencian

Kekuatan Komunitas Hijrah dalam Menumbuhkan Harapan Baru Generasi Z

Kekuatan Komunitas Hijrah dalam Menumbuhkan Harapan Baru Generasi Z

Saat Hijrah Bukan Lagi Tentang Mengubah Penampilan, Tapi Menata Hati

Saat Hijrah Bukan Lagi Tentang Mengubah Penampilan, Tapi Menata Hati

Hijrah, Bukan Sekadar Gaya Hidup, Tapi Revolusi Batin

Hijrah, Bukan Sekadar Gaya Hidup, Tapi Revolusi Batin