Saat Hijrah Bukan Lagi Tentang Mengubah Penampilan, Tapi Menata Hati

Ada masa di mana kata hijrah menjadi begitu populer. Diucapkan di panggung-panggung dakwah, diunggah di media sosial, dijadikan tren, bahkan simbol identitas baru. Banyak orang memahaminya sebagai perubahan yang tampak dari cara berpakaian, gaya berbicara, hingga pergaulan. Padahal, di balik makna lahiriah itu, ada inti yang jauh lebih mendalam dan lebih sulit digapai sebab hijrah bukan sekadar mengubah penampilan, melainkan menata hati.

Penampilan bisa berubah dalam semalam, tetapi hati membutuhkan waktu dan kesungguhan untuk diperbaiki. Dalam dunia yang gemar mengukur manusia dari apa yang terlihat, hijrah sejati justru terjadi dalam ruang yang tak kasat mata, di antara nurani dan niat, di antara air mata dan keikhlasan.

Perubahan penampilan memang bisa menjadi bagian dari hijrah, tetapi ia hanyalah permulaan, bukan tujuan. Penampilan yang baik seharusnya lahir dari hati yang telah sadar, bukan dari tekanan sosial atau dorongan untuk diterima. Karena jika hati belum berhijrah, pakaian tak akan mampu menutupi kegelisahan jiwa. Banyak yang tampak saleh di luar, namun masih berperang dengan kesombongan, amarah, atau riya di dalam.

Sebaliknya, ada pula yang belum sepenuhnya menunjukkan tanda-tanda hijrah di permukaan, tetapi hatinya terus berjuang mendekat pada Tuhannya, berbisik pelan dalam doa agar diberi kekuatan untuk berubah. Maka, jangan tergesa menilai siapa yang sudah atau belum berhijrah, sebab hijrah sejati berjalan dalam ritme yang berbeda bagi setiap jiwa.

Menata hati berarti berani menghadapi diri sendiri. Di sanalah letak ujian yang paling berat. Sebab musuh terbesar dalam hijrah bukanlah dunia luar, tetapi bisikan dari dalam: ego yang menolak tunduk, keangkuhan yang menolak dikoreksi, dan rasa ingin diakui yang diam-diam merusak niat. Hati yang belum tertata mudah sekali tergelincir, bahkan dalam kebaikan. Ia bisa beribadah namun hanya ingin dilihat, bisa berbagi tapi ingin dipuji, bisa berhijrah tapi ingin diagungkan.

Padahal, hakikat hijrah adalah meninggalkan segala yang membuat hati bergantung pada selain Allah. Dan salah satu yang paling sulit ditinggalkan adalah keinginan untuk dipuja manusia. Itulah mengapa hijrah sejati sering berjalan dalam diam, karena hati yang tenang tidak butuh sorotan.

Menata hati juga berarti belajar ikhlas. Ikhlas dalam meninggalkan dosa, ikhlas dalam menerima takdir, dan ikhlas dalam mencintai tanpa pamrih. Tidak semua yang ditinggalkan dalam hijrah mudah dilepaskan, kadang yang ditinggalkan adalah kenangan, kenyamanan, bahkan seseorang yang pernah dicintai. Tapi jika semua dilepaskan karena Allah, maka kehilangan pun berubah menjadi ketenangan.

Sebab cinta yang ditinggalkan karena Tuhan akan diganti dengan cinta yang lebih suci, cinta yang menumbuhkan, bukan menenggelamkan. Dalam setiap air mata yang jatuh di perjalanan hijrah, ada kebahagiaan yang lebih dalam, yang tak bisa dijelaskan oleh kata-kata: rasa dekat dengan Allah, yang dulu mungkin tak pernah dirasakan.

Dalam proses menata hati, seseorang belajar bahwa hijrah tidak menjadikan hidup lebih mudah, tetapi lebih bermakna. Dulu ia mungkin mengejar kebahagiaan lewat kesenangan dunia, kini ia mencarinya dalam ketenangan iman. Dulu ia ingin dihargai oleh manusia, kini ia hanya ingin diperhatikan oleh Tuhannya. Namun, perubahan seperti ini tidak datang dalam sekejap.

Hati perlu dibersihkan sedikit demi sedikit melalui istighfar, dzikir, sabar, dan doa yang tulus. Seperti taman yang gersang setelah musim kemarau, hati pun butuh disiram terus-menerus dengan amal baik dan renungan. Kadang terasa lambat, tapi setiap tetes usaha itu menumbuhkan bunga ketulusan yang indah di kemudian hari.

Ada masa di mana semangat hijrah terasa membara, namun ada pula masa di mana hati terasa hampa. Inilah siklus yang alami dalam perjalanan spiritual. Menata hati berarti belajar untuk tetap bertahan di antara pasang surut iman. Tidak semua hari akan mudah, tidak semua malam akan penuh kekhusyukan.

Tapi selama niat tetap lurus, Allah tidak akan meninggalkan. “Sesungguhnya Allah tidak melihat rupa dan harta kalian, tetapi Ia melihat hati dan amal kalian,” sabda Rasulullah ﷺ. Maka yang terpenting bukan seberapa cepat kita berubah, tetapi seberapa tulus kita berjuang. Hijrah sejati bukan tentang siapa yang paling dulu sampai, tetapi siapa yang paling teguh berjalan.

Dalam menata hati, seseorang juga belajar memaafkan. Bukan hanya memaafkan orang lain, tapi juga diri sendiri. Banyak yang gagal berhijrah sepenuhnya karena terus menyalahkan diri atas masa lalu. Padahal, hijrah bukan tentang menghapus jejak lama, melainkan melangkah dengan kesadaran baru.

Tidak ada manusia tanpa masa lalu, sebagaimana tidak ada masa depan tanpa harapan. Allah membuka pintu tobat selebar langit dan bumi bukan untuk orang suci, tapi untuk hamba yang masih berjuang. Maka, ketika seseorang berhijrah dan menata hatinya, ia harus yakin bahwa setiap luka masa lalu kini sedang disembuhkan oleh rahmat Ilahi.

Menata hati juga berarti menata cara mencintai. Cinta yang dulu mungkin didasari keinginan memiliki, kini berubah menjadi keinginan memberi. Ia mencintai tanpa mengikat, mendoakan tanpa berharap balasan, dan menjaga tanpa menuntut. Sebab ia tahu, cinta sejati bukan yang membuat lupa pada Tuhan, tapi yang menuntun untuk semakin dekat kepada-Nya.

Hati yang telah berhijrah memahami bahwa segala rasa yang tulus akhirnya bermuara pada Allah, karena Dialah sumber dari segala cinta. Maka, hijrah yang sejati tidak memadamkan cinta, tapi memurnikannya. Di tengah perjalanan menata hati, seseorang juga akan diuji dengan pandangan orang lain. Ada yang memuji, ada yang meragukan, bahkan ada yang mencibir. Tapi hati yang telah berhijrah tahu bahwa keridhaan manusia tidak akan pernah bisa diraih seluruhnya.

Ia belajar untuk tidak menjadikan komentar orang sebagai bahan bakar langkahnya. Ia cukup berfokus pada pandangan Allah, karena hanya pandangan itu yang abadi. Ia sadar bahwa hijrah bukan tentang menjadi lebih baik dari orang lain, melainkan menjadi lebih baik dari dirinya sendiri yang kemarin. Dan selama ia masih berusaha untuk itu, berarti ia masih dalam jalan hijrah yang benar.

Seiring waktu, penampilan akan berubah, usia akan menua, dunia akan berputar. Tapi hati yang tertata karena hijrah akan tetap muda dalam iman. Ia tidak mudah sombong saat dipuji, tidak mudah goyah saat diuji. Ia telah menemukan keseimbangan antara dunia dan akhirat, antara cinta dan sabar, antara usaha dan tawakal. Itulah buah dari hijrah yang tidak berhenti di kulit luar, melainkan menembus ke inti jiwa. Sebagaimana bunga yang tak butuh tepuk tangan untuk mekar, hati yang berhijrah pun tidak butuh pengakuan untuk berbahagia, karena kebahagiaannya lahir dari kedekatan dengan Allah.

Hijrah bukan tentang bagaimana dunia melihat kita, tapi bagaimana Allah menilai hati kita. Penampilan bisa menipu, tapi hati tidak pernah berdusta di hadapan Tuhan. Menata hati adalah perjalanan seumur hidup, yang dimulai dari kesadaran bahwa kita hanyalah hamba yang lemah, namun dicintai oleh Tuhan yang Maha Pengampun. Maka, selama hati masih berdegup, selama napas masih terhembus, perjalanan hijrah itu belum selesai.

Sebab setiap hari adalah kesempatan baru untuk memperbaiki niat, memperindah amal, dan memperhalus cinta kepada Allah. Dan ketika hati telah tertata, dunia yang dulu tampak bising kini terasa tenang. Ia tidak lagi mencari validasi, karena cukup dengan ridha Allah. Ia tidak lagi gelisah dengan masa lalu, karena percaya pada ampunan-Nya. Ia tidak lagi khawatir akan masa depan, karena yakin pada janji-Nya. Itulah puncak hijrah yang sejati, bukan sekadar perubahan luar yang mempesona mata, tetapi perubahan dalam yang menentramkan jiwa. Sebab, seperti kata bijak: “Hijrah bukan tentang menjadi sempurna, tetapi tentang menjadi lebih sadar akan cinta Allah.” Dan siapa pun yang hatinya telah ditata dengan cinta itu, ia telah menemukan kedamaian yang tak bisa dibeli oleh apa pun di dunia ini.

Related Posts

Hijrah Bukan Tentang Meninggalkan Dunia, Tapi Mengubah Cara Menyikapinya

Dunia tidak pernah benar-benar menjadi musuh manusia, karena di dalamnya terdapat ayat-ayat Tuhan yang tersebar dalam bentuk pengalaman, kejadian, dan peluang untuk berbuat baik. Yang menjadi masalah bukanlah keberadaan dunia…

Influencer Dakwah dan Godaan Popularitas Spiritual

Fenomena influencer dakwah adalah salah satu wajah baru dari zaman modern yang memadukan agama dengan teknologi. Di satu sisi, ia menjadi pintu kebaikan yang luar biasa dengan membawa pesan-pesan Ilahi…

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You Missed

Hijrah Bukan Tentang Meninggalkan Dunia, Tapi Mengubah Cara Menyikapinya

Hijrah Bukan Tentang Meninggalkan Dunia, Tapi Mengubah Cara Menyikapinya

Influencer Dakwah dan Godaan Popularitas Spiritual

Influencer Dakwah dan Godaan Popularitas Spiritual

Ketika Hijrah Membawa Kedamaian, Bukan Kebencian

Ketika Hijrah Membawa Kedamaian, Bukan Kebencian

Kekuatan Komunitas Hijrah dalam Menumbuhkan Harapan Baru Generasi Z

Kekuatan Komunitas Hijrah dalam Menumbuhkan Harapan Baru Generasi Z

Saat Hijrah Bukan Lagi Tentang Mengubah Penampilan, Tapi Menata Hati

Saat Hijrah Bukan Lagi Tentang Mengubah Penampilan, Tapi Menata Hati

Hijrah, Bukan Sekadar Gaya Hidup, Tapi Revolusi Batin

Hijrah, Bukan Sekadar Gaya Hidup, Tapi Revolusi Batin