Ketika hijrah membawa kedamaian, bukan kebencian, di situlah makna sejatinya menemukan bentuk paling indahnya. Sebab hijrah bukanlah perjalanan menuju kesombongan moral, melainkan perjalanan menuju kelembutan hati. Ia bukan tentang merasa lebih baik dari orang lain, melainkan tentang menjadi lebih rendah hati di hadapan Tuhan.
Sayangnya, dalam perjalanan spiritual sebagian orang, hijrah terkadang disalahpahami: dijadikan tembok yang memisahkan, bukan jembatan yang menyatukan. Padahal, hakikat hijrah bukan untuk menciptakan jarak antara “aku yang sudah sadar” dan “mereka yang belum,” tetapi untuk menumbuhkan kasih di tengah perbedaan, menebar rahmat di antara sesama manusia, dan menjadi saksi bahwa cinta kepada Allah melahirkan cinta kepada makhluk-Nya.
Hijrah adalah peristiwa batin, bukan pernyataan status. Ia terjadi ketika hati yang dulu keras menjadi lembut, ketika pandangan yang dulu sempit mulai meluas, dan ketika seseorang mulai melihat dunia dengan lensa kasih sayang. Hijrah yang sejati tidak melahirkan kebencian terhadap masa lalu, melainkan rasa syukur karena telah disadarkan.
Ia tidak membuat seseorang mencaci kehidupan lamanya, tetapi memaafkan dirinya sendiri dengan penuh penerimaan. Sebab setiap langkah menuju kebaikan lahir dari rahmat Allah, bukan dari kehebatan manusia. Orang yang benar-benar berhijrah menyadari bahwa dirinya hanyalah hamba yang sedang dibimbing, bukan hakim yang berhak menilai perjalanan orang lain.
Kedamaian dalam hijrah lahir ketika seseorang mengerti bahwa cinta adalah inti dari setiap perintah agama. Rasulullah ﷺ diutus bukan untuk menghukum, tetapi untuk membawa rahmat bagi seluruh alam. Maka, semakin dalam seseorang berhijrah, seharusnya semakin luas pula kasih sayangnya.
Ia tidak lagi melihat perbedaan sebagai ancaman, tetapi sebagai bagian dari mozaik ciptaan Tuhan. Ia berhenti berdebat hanya untuk menang, karena kini ia lebih sibuk mencari cara untuk memahami. Ia berhenti membenci orang yang belum berubah, karena ia tahu, dulu pun dirinya pernah tersesat. Hatinya tenang, karena ia tidak lagi ingin memaksa dunia menjadi seperti dirinya; cukup memastikan dirinya menjadi lebih baik setiap hari. Namun, dalam dinamika sosial modern, tidak sedikit yang tergelincir dalam euforia hijrah hingga menjadikannya alat pembeda sosial.
Mereka mengukur kesalehan dari penampilan, melabeli orang lain dengan “belum hijrah,” dan menutup telinga dari pandangan yang berbeda. Padahal, hijrah yang sejati tidak melahirkan klaim eksklusif, tetapi kehangatan inklusif. Ia tidak membuat dinding baru, melainkan membuka pintu-pintu dialog dan silaturahmi.
Orang yang benar-benar mengenal Allah tidak akan merasa perlu menonjolkan diri di hadapan manusia, karena cahaya keimanan cukup bersinar dari akhlak yang lembut dan tutur yang menenangkan. Kebencian tidak pernah menjadi tanda keimanan; yang menjadi tanda adalah kasih dan adab.
Hijrah yang membawa kedamaian adalah hijrah yang menumbuhkan welas asih. Ia membuat seseorang berhenti mengutuk kegelapan dan mulai menyalakan lilin kecil dalam dirinya. Ia mengajarkan bahwa dakwah terbaik bukanlah kata-kata yang keras, tetapi sikap yang meneduhkan. Bahwa mengajak manusia kepada kebaikan tidak harus dengan menunjuk kesalahannya, tetapi dengan menunjukkan indahnya kebenaran.
Seorang bijak pernah berkata, “Cahaya tidak pernah berteriak untuk menyingkirkan gelap; ia hanya bersinar.” Begitu pula orang yang berhijrah dengan hati sebab ia tidak sibuk menuding masa lalu, tidak memusuhi dunia, tidak merasa suci; ia cukup menjadi penerang yang lembut, memberi kehangatan bagi siapa pun yang mendekat.
Ketika hijrah dipenuhi kedamaian, seseorang akan memahami bahwa dakwah bukan sekadar menyampaikan, tetapi juga mendengarkan. Ia tidak lagi berbicara untuk membenarkan diri, melainkan untuk membangun pengertian. Ia tahu bahwa setiap manusia memiliki proses spiritualnya sendiri, dan tidak semua orang berjalan dengan kecepatan yang sama.
Ia bersabar, karena ia tahu bahwa Allah bekerja dalam diam, menuntun hati sesuai waktu yang ditentukan. Ia berhenti mengukur keberhasilan dakwah dari jumlah pengikut, melainkan dari sejauh mana cinta dan adab tumbuh dalam dirinya dan orang-orang di sekitarnya. Ia mengerti bahwa yang penting bukan berapa banyak orang yang berubah karena ucapannya, tetapi berapa banyak hati yang tenang karena sikapnya.
Kedamaian juga lahir dari kemampuan memaafkan. Orang yang berhijrah sejati tidak memendam dendam terhadap mereka yang mungkin menertawakan perubahannya, atau mengingatkannya pada masa lalunya. Ia membalas ejekan dengan senyum, karena ia tahu setiap ejekan hanyalah ujian kesabaran yang memperkuat imannya.
Ia memaafkan, bukan karena orang lain layak dimaafkan, tetapi karena hatinya terlalu berharga untuk diisi kebencian. Ia belajar dari Rasulullah ﷺ yang tetap berdoa bagi kaum yang melemparinya di Thaif, bukan dengan amarah, tapi dengan kasih. Ia tahu bahwa kebaikan sejati bukan hanya berhenti pada lisan yang lembut, tetapi hati yang lapang.
Hijrah yang damai juga membuat seseorang lebih bijak dalam menilai dunia. Ia tidak lagi melihat kehidupan duniawi sebagai musuh, melainkan medan ujian yang bisa melatih keikhlasan. Ia tetap bekerja keras, bermimpi, dan berinteraksi, tetapi dengan hati yang lebih tenang. Ia tahu bahwa hidup bukan tentang membuktikan kesalehan, melainkan tentang menjaga ketulusan.
Dunia tidak lagi menjadi arena persaingan, tetapi ladang untuk menanam kebaikan. Ia berhenti membenci dunia, karena kini ia tahu: dunia bukan tempat yang harus dijauhi, tetapi harus dijalani dengan iman. Hijrah yang damai mengajarkan bahwa ketenangan tidak datang dari menjauh, tetapi dari menyikapi dunia dengan hati yang lurus.
Di tengah masyarakat yang sering terpolarisasi oleh perbedaan tafsir dan pandangan, kehadiran orang-orang yang berhijrah dengan kedamaian menjadi harapan. Mereka tidak menambah kebisingan, tetapi membawa ketenangan. Mereka tidak membelah umat, tetapi menyatukannya dengan kasih.
Mereka memahami bahwa keberagaman bukan ancaman bagi keimanan, melainkan bukti keluasan rahmat Tuhan. Ketika hijrah dijalani dengan cinta, perbedaan bukan lagi sumber konflik, melainkan sarana saling belajar. Karena orang yang mencintai Allah dengan tulus, tidak mungkin membenci ciptaan-Nya hanya karena berbeda pandangan atau jalan.
Kedamaian dalam hijrah juga melahirkan empati sosial. Orang yang berhijrah dengan hati yang lembut akan lebih peka terhadap penderitaan orang lain. Ia tidak hanya memikirkan keselamatan dirinya, tetapi juga keselamatan sesamanya. Ia mengulurkan tangan kepada yang lemah, menenangkan yang gelisah, menuntun yang tersesat dengan kasih.
Ia menjadi bukti hidup dari pesan Nabi ﷺ bahwa “sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lain.” Di sini, hijrah bukan lagi urusan pribadi, melainkan gerakan kemanusiaan. Ia menebarkan kedamaian yang nyata dengan melalui senyum, tindakan, dan doa yang tulus untuk dunia yang lebih baik.
Ketika hijrah membawa kedamaian, seseorang akan menemukan dirinya kembali sebagai hamba yang utuh. Ia tidak lagi terjebak antara masa lalu dan masa depan, karena hatinya telah berdamai dengan keduanya. Ia tidak lagi ingin menang atas manusia, karena cukup baginya untuk diterima oleh Allah. Ia hidup dalam keseimbangan antara kesungguhan beribadah dan kelembutan berinteraksi, antara keyakinan pada kebenaran dan penghormatan terhadap sesama. Hatinya tidak lagi keras oleh klaim kebenaran, melainkan lembut oleh kasih.
Sebab sejatinya, hijrah bukan tentang menjauh dari dunia, bukan pula tentang menolak yang berbeda, tetapi tentang menumbuhkan cinta dalam diri. Ketika cinta tumbuh, kebencian layu. Ketika kasih mengisi ruang hati, kedamaian menjadi napas kehidupan. Dan pada titik itu, hijrah tidak lagi sekadar perjalanan spiritual, sebab ia menjadi seni mencintai dengan cara yang paling tinggi, yaitu mencintai Tuhan dengan memuliakan sesama. Karena hanya hati yang damai yang mampu menebarkan cahaya, dan hanya hijrah yang penuh kasih yang mampu menyembuhkan dunia yang penuh luka.




