Influencer Dakwah dan Godaan Popularitas Spiritual

Fenomena influencer dakwah adalah salah satu wajah baru dari zaman modern yang memadukan agama dengan teknologi. Di satu sisi, ia menjadi pintu kebaikan yang luar biasa dengan membawa pesan-pesan Ilahi menembus batas ruang dan waktu, menjangkau hati-hati yang mungkin tak tersentuh oleh mimbar konvensional. Namun di sisi lain, di balik layar ponsel yang bersinar terang, ada bayangan halus yang mengintai: godaan popularitas spiritual.

Ketika dakwah tidak lagi sekadar tentang menyampaikan kebenaran, melainkan tentang mempertahankan pengaruh dan jumlah pengikut, maka batas antara ikhlas dan eksis menjadi semakin kabur. Di situlah ujian terbesar bagi seorang dai era digital dimulai, ujian bukan tentang apa yang disampaikan, tetapi untuk siapa sebenarnya ia menyampaikannya.

Media sosial hari ini telah mengubah cara manusia berinteraksi dengan kebenaran. Algoritma mengatur siapa yang didengar, bukan lagi nilai yang dibawa. Akibatnya, popularitas sering kali lebih cepat naik daripada keilmuan, dan pengakuan publik kadang lebih menggoda daripada ridha Tuhan. Banyak influencer dakwah yang awalnya tulus ingin menyebarkan kebaikan, namun perlahan terseret oleh arus perhatian dan validasi.

Setiap unggahan menjadi panggung, setiap “like” menjadi penegasan nilai diri, dan setiap komentar pujian menjadi candu yang halus. Di titik ini, dakwah bisa kehilangan ruhnya dengan menjadi pertunjukan spiritual yang indah di mata manusia, tapi kosong di hadapan Allah.

Godaan popularitas spiritual adalah bentuk baru dari riya yang dibungkus modernitas. Ia tidak datang dalam rupa sombong yang kasar, melainkan dalam bentuk halus yang menjadi keinginan untuk dilihat sebagai sosok beriman, untuk dikagumi karena kesalehan, untuk diikuti karena gaya religius yang menawan.

Padahal, dakwah sejati adalah tentang menyampaikan kebenaran, bukan tentang menjadi pusat perhatian. Ia adalah perjalanan untuk menuntun manusia menuju Allah, bukan mengajak mereka berhenti pada sosok dai itu sendiri. Seperti kata pepatah sufi, “Barang siapa berdakwah agar dirinya dikenal, maka sesungguhnya ia telah menyeret dirinya jauh dari Allah.” Karena hakikat dakwah bukan menjadikan diri besar, tetapi membesarkan nama Tuhan. Namun kita tidak bisa menafikan bahwa influencer dakwah juga menghadapi dilema yang kompleks.

Di satu sisi, mereka dituntut untuk adaptif dan menarik agar pesan agama bisa diterima khalayak luas. Di sisi lain, mereka harus menjaga kemurnian niat agar tidak terjebak dalam industri spiritual yang memonetisasi iman. Setiap konten yang dibuat bisa menjadi amal jariyah, namun juga bisa menjadi alat kesombongan tersembunyi.

Setiap kolaborasi bisa menjadi strategi dakwah, namun juga jebakan ego. Maka seorang dai modern harus memiliki benteng keikhlasan yang kokoh di tengah arus dunia maya yang serba cepat dan penuh pujian palsu.

Di dunia digital, kecepatan menjadi segalanya, seperti cepat viral, cepat terkenal, dan cepat lupa diri. Dakwah pun kadang terpaksa disederhanakan demi engagement dan algoritmic reach. Nilai-nilai yang mendalam diubah menjadi slogan singkat; ilmu yang kompleks diringkas menjadi kutipan estetik.

Padahal, agama tidak bisa selalu dipadatkan menjadi potongan dua menit yang menenangkan telinga tapi tidak menggugah hati. Influencer dakwah perlu menyadari bahwa mereka bukan hanya sedang berkomunikasi dengan massa, tetapi sedang memegang amanah risalah yang suci. Amanah ini menuntut kesabaran untuk mendidik, bukan hanya menghibur; menuntut ketulusan untuk membimbing, bukan sekadar memengaruhi.

Popularitas spiritual juga dapat melahirkan bentuk baru dari kesombongan batin: merasa paling benar, merasa paling dekat dengan Tuhan, dan merasa paling layak untuk didengar. Ketika jumlah pengikut dijadikan tolok ukur kebenaran, maka substansi dakwah perlahan memudar. Dalam sejarah, tidak sedikit orang yang berbicara atas nama agama tapi kehilangan rasa takut kepada Allah.

Imam Al-Ghazali pernah menulis, “Di antara fitnah terbesar bagi ulama adalah cinta akan kedudukan dan ketenaran. Keduanya dapat merusak amal seperti api membakar kayu kering.” Maka bagi influencer dakwah, popularitas adalah ujian yang lebih berat daripada kemiskinan. Karena harta yang paling sulit dikendalikan bukanlah uang, tetapi nama baik yang dielu-elukan manusia.  Namun bukan berarti dakwah digital harus dihindari. Justru, ia adalah peluang emas untuk menjangkau generasi yang haus makna di tengah kekosongan spiritual. Yang dibutuhkan adalah keseimbangan antara niat dan strategi, antara kemasan dan substansi.

Seorang influencer dakwah sejati tidak akan membiarkan sorotan menelan keikhlasan. Ia menggunakan popularitas bukan sebagai tujuan, tetapi sebagai alat untuk menebar manfaat. Ia sadar bahwa setiap pengikut bukan angka, melainkan amanah. Ia mengingat bahwa setiap kata yang diucapkan di depan kamera akan dimintai pertanggungjawaban di hadapan Tuhan. Dalam hatinya, ia terus berdoa agar tetap menjadi perantara cahaya, bukan pencuri cahaya itu sendiri.

Menjaga hati dalam dunia dakwah modern memerlukan kedewasaan spiritual. Ada kalanya pujian datang seperti angin lembut yang meninabobokan. Ada kalanya kritik datang seperti badai yang mengguncang. Keduanya bisa menggoyahkan, jika hati tidak ditambatkan pada niat yang murni.

Influencer dakwah perlu terus bermuhasabah: apakah yang mereka lakukan masih dalam rangka menyeru kepada kebaikan karena Allah, ataukah sekadar mempertahankan reputasi di hadapan manusia? Apakah pesan dakwah mereka menumbuhkan cinta dan adab, atau justru menimbulkan perpecahan dan kebanggaan diri? Hati yang sering diperiksa tidak mudah terperangkap oleh tipu daya popularitas.

Di sisi lain, masyarakat pun perlu belajar untuk tidak menuhankan sosok. Pengikut sering kali menempatkan influencer dakwah di atas pedestal yang tinggi, seolah mereka makhluk tanpa cela. Ketika sang dai tergelincir, kekecewaan pun berubah menjadi hujatan. Padahal, para influencer itu juga manusia yang belajar, yang berjuang, dan yang tak luput dari salah.

Mereka bukan nabi, tapi murid yang sedang berusaha di sekolah kehidupan. Maka yang harus kita ambil bukanlah kultus terhadap sosoknya, melainkan hikmah dari pesan yang disampaikan. Karena pada akhirnya, kebenaran tidak terikat pada siapa yang berkata, tetapi pada apa yang dikatakan.

Ada satu pesan indah dari ulama besar Hasan Al-Bashri: “Janganlah engkau menjadi dai yang menyeru kepada Allah sementara hatimu berpaling dari-Nya.” Kalimat ini menggambarkan inti dari godaan popularitas spiritual: seseorang bisa tampak mengingatkan manusia kepada Allah, tapi sebenarnya sedang sibuk memperkenalkan dirinya sendiri. Ia bisa menuntun orang lain menuju surga, tapi berjalan sendiri menuju kehampaan. Maka, yang diperlukan bukan hanya kemampuan berbicara, tetapi kesucian niat. Sebab kata-kata yang lahir dari hati yang bersih akan menyentuh hati, sementara yang keluar dari ambisi hanya akan menembus telinga lalu menguap.

Di tengah hiruk-pikuk dunia maya yang serba cepat, influencer dakwah sejati adalah mereka yang berjalan pelan tapi mantap. Mereka tidak silau oleh pujian, tidak tumbang oleh kritik, dan tidak tergoda oleh angka. Mereka berdiri di atas landasan keikhlasan yang kokoh, menanam benih kebaikan meski mungkin tidak melihat hasilnya. Mereka tahu bahwa popularitas datang dan pergi, tapi keberkahan akan tetap tinggal di hati yang ikhlas. Mereka sadar bahwa tidak ada followers yang lebih berharga daripada menjadi follower sejati dari Rasulullah ﷺ.

Dakwah bukan tentang siapa yang paling banyak didengar, tetapi siapa yang paling jujur dalam menyampaikan. Bukan tentang siapa yang paling viral, tetapi siapa yang paling tulus bergetar hatinya ketika menyebut nama Allah. Popularitas mungkin memberi tepuk tangan, tapi keikhlasanlah yang memberi ketenangan. Maka biarlah influencer dakwah terus bermunculan, asalkan mereka tidak lupa bahwa mikrofon mereka hanyalah titipan, kamera mereka hanyalah alat, dan sorotan manusia hanyalah bayangan fana. Sebab pada hari ketika cahaya dunia padam, yang tersisa hanyalah cahaya amal dan hanya hati yang ikhlas yang akan tetap bersinar.

Related Posts

Hijrah Bukan Tentang Meninggalkan Dunia, Tapi Mengubah Cara Menyikapinya

Dunia tidak pernah benar-benar menjadi musuh manusia, karena di dalamnya terdapat ayat-ayat Tuhan yang tersebar dalam bentuk pengalaman, kejadian, dan peluang untuk berbuat baik. Yang menjadi masalah bukanlah keberadaan dunia…

Ketika Hijrah Membawa Kedamaian, Bukan Kebencian

Ketika hijrah membawa kedamaian, bukan kebencian, di situlah makna sejatinya menemukan bentuk paling indahnya. Sebab hijrah bukanlah perjalanan menuju kesombongan moral, melainkan perjalanan menuju kelembutan hati. Ia bukan tentang merasa…

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You Missed

Hijrah Bukan Tentang Meninggalkan Dunia, Tapi Mengubah Cara Menyikapinya

Hijrah Bukan Tentang Meninggalkan Dunia, Tapi Mengubah Cara Menyikapinya

Influencer Dakwah dan Godaan Popularitas Spiritual

Influencer Dakwah dan Godaan Popularitas Spiritual

Ketika Hijrah Membawa Kedamaian, Bukan Kebencian

Ketika Hijrah Membawa Kedamaian, Bukan Kebencian

Kekuatan Komunitas Hijrah dalam Menumbuhkan Harapan Baru Generasi Z

Kekuatan Komunitas Hijrah dalam Menumbuhkan Harapan Baru Generasi Z

Saat Hijrah Bukan Lagi Tentang Mengubah Penampilan, Tapi Menata Hati

Saat Hijrah Bukan Lagi Tentang Mengubah Penampilan, Tapi Menata Hati

Hijrah, Bukan Sekadar Gaya Hidup, Tapi Revolusi Batin

Hijrah, Bukan Sekadar Gaya Hidup, Tapi Revolusi Batin