Dunia tidak pernah benar-benar menjadi musuh manusia, karena di dalamnya terdapat ayat-ayat Tuhan yang tersebar dalam bentuk pengalaman, kejadian, dan peluang untuk berbuat baik. Yang menjadi masalah bukanlah keberadaan dunia itu sendiri, melainkan bagaimana hati manusia menempatkannya. Ketika dunia dikejar, ia menjadi racun; tetapi ketika dunia dijalani dengan kesadaran, ia menjadi ladang pahala. Maka, hijrah sejati bukanlah menjauh dari kehidupan duniawi, melainkan menata niat, arah, dan tujuan dalam menjalaninya agar setiap langkah tetap mengarah pada ridha Ilahi.
Dunia adalah ujian, bukan tujuan. Itulah yang sering dilupakan banyak orang ketika berbicara tentang hijrah. Sebagian memahami hijrah seolah harus menolak dunia sepenuhnya dengan menjauh dari kesenangan, berhenti bermimpi, dan menutup diri dari cita-cita. Padahal, Islam tidak pernah memerintahkan untuk membenci dunia, hanya mengingatkan agar tidak diperbudak olehnya.
Nabi ﷺ sendiri adalah teladan terbaik dalam hal ini sebab beliau berdagang, berkeluarga, berjuang, dan berinteraksi dengan masyarakat, namun hatinya tidak pernah terikat pada dunia. Dunia ada di tangannya, bukan di hatinya. Itulah makna sejati dari hidup yang berhijrah, bukan melepaskan kehidupan, tetapi memuliakannya dengan niat yang benar.
Hijrah mengajarkan bahwa perubahan paling mendasar bukanlah pada lingkungan luar, melainkan pada kesadaran batin. Orang yang berhijrah tidak serta-merta menjadi asing dari dunia, tetapi menjadi asing dari keserakahan yang dulu mengikatnya. Ia masih bekerja, namun kini pekerjaannya bernilai ibadah.
Ia masih bermimpi sukses, namun bukan untuk disanjung manusia, melainkan untuk bermanfaat bagi sesama. Ia masih mencintai, namun cinta itu tidak lagi menjerat, karena kini ia tahu bahwa segala cinta sejati berakar pada cinta kepada Allah. Inilah transformasi halus namun mendalam, dunia yang sama, tetapi cara memandangnya berbeda; realitas yang sama, tetapi cara menjalaninya berubah.
Sebelum hijrah, dunia mungkin tampak sebagai arena perlombaan untuk menjadi yang paling kaya, paling berpengaruh, atau paling disukai. Setelah hijrah, dunia menjadi ladang amal sebab yang terpenting bukan siapa yang menang, tetapi siapa yang ikhlas.
Pemuda yang berhijrah tidak berhenti mengejar cita-cita, tapi kini ia sadar bahwa setiap capaian duniawi hanyalah sarana, bukan tujuan akhir. Ia bisa menjadi dokter, pengusaha, ilmuwan, seniman, atau pemimpin, namun semuanya dijalani dengan kesadaran bahwa profesinya adalah bagian dari ibadah. Ia belajar bahwa hijrah bukan tentang mundur dari kehidupan, tetapi tentang melangkah lebih bijak di dalamnya.
Hijrah juga mengajarkan keseimbangan. Dunia bukan tempat untuk dilupakan, tetapi juga bukan tempat untuk didewakan. Hati yang berhijrah memahami bahwa Allah menciptakan dunia dengan keindahan agar manusia mengenal-Nya melalui ciptaan-Nya. Menikmati keindahan dunia bukanlah dosa, selama ia tidak membuat kita lupa akan Sang Pencipta keindahan itu.
Makan, berpakaian, berlibur, berkarya, dan mencintai semuanya bisa menjadi ibadah jika disertai niat yang lurus. Karena dalam Islam, yang membedakan amal duniawi dan amal ukhrawi bukan bentuknya, tetapi niat yang mengiringinya. Hijrah berarti memperbaiki niat, bukan mematikan rasa.
Dalam proses ini, seorang yang berhijrah akan mulai melihat dunia dengan mata yang baru. Ia tidak lagi terpikat oleh kilau harta, karena ia tahu bahwa dunia ini sementara. Ia tidak lagi iri pada kemegahan orang lain, karena ia mengukur diri dengan standar ridha Allah, bukan ukuran manusia. Ia tidak lagi putus asa ketika kehilangan, karena ia sadar bahwa semua yang pergi hanyalah milik Allah yang dipinjamkan sementara.
Ia mengerti makna sabda Nabi ﷺ, “Dunia ini penjara bagi orang beriman dan surga bagi orang kafir.” Bukan karena orang beriman dilarang menikmati dunia, tetapi karena mereka tahu dunia hanyalah tempat singgah, dan tiada tempat singgah yang lebih indah daripada yang diisi dengan amal baik.
Hijrah bukan berarti hidup menjadi kaku dan asing dari kehidupan sosial. Justru, seseorang yang berhijrah sejati akan menjadi lebih hangat, lebih peka, dan lebih bermanfaat. Ia tidak menjauh dari dunia, melainkan memperbaikinya. Ia tidak menghakimi mereka yang belum berubah, melainkan menginspirasi dengan keteladanan.
Ia tidak meninggalkan dunia, tetapi membersihkan niatnya agar keberadaannya di dunia membawa cahaya. Ia belajar mencintai dunia dalam kadar yang wajar, seperti seseorang mencintai perahu, bukan karena perahunya, tetapi karena ia tahu perahu itu membantunya menyeberang menuju tujuan akhir. Dunia adalah perahu; akhirat adalah daratan abadi. Yang berhijrah adalah mereka yang pandai menavigasi keduanya.
Ada saat-saat dalam hijrah di mana seseorang merasa ragu: apakah ia masih boleh bermimpi besar, menikmati kesuksesan, atau mencintai duniawi? Jawabannya adalah boleh, selama semuanya diarahkan kepada nilai yang lebih tinggi. Seorang yang berhijrah bisa menjadi kaya tanpa tamak, berpengaruh tanpa sombong, terkenal tanpa lupa diri. Karena hijrah bukan menolak dunia, tapi menundukkan ego yang menguasai dunia di dalam diri.
Dunia hanya berbahaya ketika ia memenjarakan hati. Maka, menata hubungan dengan dunia adalah tentang kebebasan sejati: bebas dari rasa takut kehilangan, bebas dari kebutuhan untuk selalu dipuji, bebas dari haus pengakuan yang melelahkan.
Hijrah juga berarti belajar mensyukuri dunia, bukan melarikan diri darinya. Dunia, dengan segala gemerlap dan getirnya, adalah bagian dari takdir Allah yang penuh hikmah. Orang yang berhijrah tidak lagi melihat dunia sebagai tempat penderitaan, tetapi sebagai ladang ujian yang menumbuhkan jiwa.
Setiap kesulitan menjadi kesempatan untuk bersabar, setiap kenikmatan menjadi ajakan untuk bersyukur. Ia mulai memahami bahwa dunia tidak pernah jahat yang jahat adalah cara manusia memanfaatkannya. Maka hijrah sejati melatih seseorang untuk bersikap adil terhadap dunia: mengambil manfaatnya tanpa diperbudak olehnya.
Menariknya, semakin dalam seseorang berhijrah, semakin ia mencintai dunia dengan cara yang benar. Ia mencintai langit karena di sanalah ia melihat kebesaran Tuhan, mencintai manusia karena mereka adalah cerminan rahmat-Nya, mencintai pekerjaannya karena di dalamnya ia bisa melayani ciptaan-Nya.
Cinta yang lahir dari hati yang berhijrah bukan cinta yang menuntut, tetapi cinta yang mengabdi. Ia mencintai dunia bukan karena dunia itu indah, tetapi karena ia melihat keindahan Sang Pencipta di balik dunia itu. Itulah puncak spiritualitas yang matang dengan menemukan Tuhan bukan dengan menjauh dari dunia, tetapi dengan melihat kehadiran-Nya dalam setiap sudut kehidupan.
Maka hijrah sejati adalah perjalanan dari keterikatan menuju kebebasan batin, dari kebingungan menuju makna, dari pencarian kesenangan menuju pencarian ketenangan. Dunia tetap sama, tapi cara pandang kita terhadapnya berubah. Dulu kita melihat dunia sebagai segalanya, kini kita melihatnya sebagai sarana menuju sesuatu yang lebih besar.
Dulu kita takut kehilangan dunia, kini kita takut kehilangan arah menuju Allah. Dan dalam perubahan perspektif itulah letak keindahan hijrah yang paling murni. Ia bukan pelarian, melainkan pencerahan; bukan penghindaran, melainkan pengendalian. Karena pada akhirnya, manusia tidak diciptakan untuk membenci dunia, tetapi untuk memaknainya.
Dunia adalah cermin bagi yang mau melihat, ujian bagi yang mau belajar, dan jalan bagi yang mau berjalan. Siapa pun yang berhijrah dengan hati yang ikhlas akan memahami bahwa dunia bukan tempat untuk ditinggalkan, tapi untuk ditundukkan oleh cinta kepada Allah. Sebab, yang berhijrah bukanlah orang yang lari dari dunia, melainkan orang yang menaklukkannya dengan ketenangan hati. Dunia hanyalah bayangan, dan cahaya sejatinya adalah Allah. Maka, selama dunia masih berputar, biarlah hati kita tetap berhijrah dari mencintai dunia, menuju mencintai Penciptanya.




