Hijrah bukan sekadar gaya hidup yang dibungkus dengan simbol dan tampilan luar; ia adalah revolusi batin yang mengubah arah jiwa dari gelap menuju cahaya, dari gelisah menuju ketenangan, dari mencari pengakuan manusia menuju kerinduan akan ridha Tuhan. Dalam makna yang terdalam, hijrah adalah perjalanan panjang seorang hamba dari kesia-siaan menuju makna, dari kebanggaan diri menuju kerendahan hati. Ia bukan sekadar pergeseran perilaku, tetapi pergeseran kesadaran. Sebab yang berhijrah bukan hanya langkah kaki, melainkan hati yang menemukan kembali rumahnya setelah lama tersesat di padang dunia.
Di era modern ini, hijrah sering dipersepsikan sebagai tren, seolah hanya soal perubahan penampilan atau komunitas yang diikuti. Banyak yang beranggapan hijrah adalah label sosial, identitas baru yang mudah dikenakan namun sulit dijaga. Padahal, hijrah sejatinya bukan tentang apa yang tampak, melainkan tentang apa yang terasa di dalam dada. Ia adalah revolusi senyap, pergolakan antara ego dan iman, antara nafsu dan nurani. Orang yang berhijrah sejati bukan hanya mengganti pakaian, tetapi mengganti arah hatinya; bukan hanya meninggalkan kebiasaan buruk, tetapi juga menanamkan nilai-nilai baru yang menuntun langkah menuju Allah.
Setiap revolusi dimulai dari ketidakpuasan. Begitu pula hijrah. Ia lahir dari kelelahan terhadap dunia yang begitu cepat berputar tanpa memberi makna. Pemuda atau siapa pun yang memutuskan berhijrah biasanya adalah mereka yang pernah terjerat oleh pesona dunia, seperti kemewahan, popularitas, cinta semu, atau ambisi yang menipu. Namun ketika semua itu tak lagi memberi ketenangan, mereka mulai mencari sesuatu yang lebih dalam.
Di sanalah Allah mengetuk hati dengan pelan, tapi pasti. Dan ketika hati menjawab panggilan itu, terjadilah revolusi. Sebuah kebangkitan dari tidur panjang dalam kelalaian. Sebagaimana pepatah Arab berkata, “Man ‘arafa nafsahu faqad ‘arafa rabbahu” (barang siapa mengenal dirinya, maka ia mengenal Tuhannya).
Hijrah bukan sekadar meninggalkan masa lalu, tetapi juga memaafkannya. Banyak yang tersandung di awal langkah karena terus dihantui oleh dosa dan kesalahan lama. Namun, revolusi batin mengajarkan bahwa Allah Maha Penerima tobat. Tidak ada masa lalu yang terlalu kelam bagi cahaya kasih-Nya. Yang penting bukan di mana seseorang pernah berada, melainkan ke mana ia kini melangkah.
Hijrah bukan menutup pintu masa lalu, tetapi membuka jendela masa depan dengan sinar keimanan. Sebab, Allah tidak menilai dari berapa lama seseorang hidup dalam gelap, melainkan dari keberaniannya menyalakan satu lilin kecil di tengah malam hati. Namun, jalan hijrah tidak selalu lurus dan mudah. Ia adalah jalan sunyi yang kadang sepi dari tepukan tangan, tapi penuh dengan ujian yang membentuk. Dalam proses itu, seseorang akan diuji dengan kehilangan, seperti kehilangan teman, kesenangan, bahkan kenyamanan lama.
Dunia seolah menentangnya, dan kadang diri sendiri pun meragukan langkahnya. Tapi di sanalah revolusi batin menemukan maknanya bahwa iman sejati tumbuh bukan di tengah pujian, melainkan di tengah kesulitan. Hijrah mengajarkan bahwa cinta kepada Allah tidak diukur dari banyaknya kata, tetapi dari keteguhan hati untuk tetap berjalan meski dunia berbalik arah.
Revolusi batin juga berarti menyadari bahwa perubahan sejati tidak terjadi sekali waktu, melainkan terus-menerus. Ia bukan peristiwa, tetapi proses. Setiap hari adalah pertarungan baru antara yang lama dan yang baru dalam diri. Ada hari di mana iman terasa kuat, namun ada pula hari di mana jiwa kembali rapuh. Tapi di situlah indahnya hijrah karena Allah tidak menuntut kesempurnaan, melainkan kesetiaan untuk terus berusaha.
Seorang ulama pernah berkata, “Hijrah itu bukan tentang seberapa jauh engkau melangkah, tapi seberapa engkau bertahan ketika godaan datang.” Maka, revolusi batin sejati adalah ketika seseorang terus memperbarui niat dan semangatnya untuk tetap berada di jalan yang benar, meski langkahnya tertatih. Dalam revolusi batin, seseorang belajar bahwa cinta kepada Allah bukan sekadar perasaan, tetapi keputusan. Ia bukan emosi yang datang tiba-tiba, melainkan kesadaran yang dipupuk dalam keheningan ibadah, dalam renungan panjang di malam hari.
Cinta kepada Allah membuat hati lembut namun kuat, tenang namun tegas. Dari cinta itu lahir ketaatan yang bukan karena takut, melainkan karena rindu. Inilah cinta yang membebaskan, bukan yang mengikat. Cinta yang mengajarkan bahwa setiap perintah Allah adalah bentuk kasih, dan setiap larangan adalah pelukan lembut yang menjaga dari kehancuran.
Hijrah juga menuntun seseorang untuk mengubah cara pandangnya terhadap dunia. Ia tak lagi memandang dunia sebagai tujuan, melainkan sebagai ladang amal. Ia bekerja bukan hanya untuk sukses, tetapi untuk bermanfaat. Ia mencintai bukan hanya untuk bahagia, tetapi untuk menumbuhkan iman. Dunia yang dulu tampak menyesakkan kini menjadi sarana untuk berbuat baik.
Di sinilah revolusi batin mencapai puncaknya, ketika dunia tidak lagi menguasai hati, melainkan hati yang mengendalikan dunia. Seorang bijak berkata, “Barang siapa menjadikan akhirat sebagai tujuan, maka dunia akan datang kepadanya dalam keadaan hina.” Maka hijrah adalah tentang membalik prioritas, dari mengejar dunia menjadi mengejar ridha Tuhan, dari membanggakan diri menjadi merendahkan hati.
Dalam diam, orang yang berhijrah mulai mencintai kesunyian. Ia mulai menikmati waktu bersama Tuhan dalam doa dan sujud. Ia menemukan kedamaian yang tidak ditemukan dalam keramaian. Setiap zikir menjadi percakapan intim, setiap air mata menjadi bukti cinta. Ia sadar, bahwa revolusi batin bukan berarti menolak dunia, tetapi menempatkannya di tempat yang semestinya. Ia tetap hidup di tengah manusia, tetap bekerja, tetap berinteraksi, namun kini dengan hati yang terikat pada langit.
Dunia menjadi ladang amal, bukan penjara nafsu. Ia mengerti kini bahwa hijrah sejati bukan tentang berpindah tempat, tetapi berpindah tujuan, dari diri sendiri menuju Allah. Namun, revolusi batin juga menuntut keteguhan. Tidak cukup hanya berhijrah, seseorang juga harus menjaga hijrahnya. Sebab banyak yang memulai dengan semangat, namun mundur karena lelah. Ada yang berhijrah karena manusia, lalu jatuh ketika manusia itu pergi.
Ada pula yang berhijrah karena ingin dipuji, lalu hancur ketika pujian berubah menjadi celaan. Di sinilah pentingnya niat yang murni bahwa hijrah hanya karena Allah. Karena jika cinta kepada Allah menjadi alasan, maka tidak ada kehilangan yang menakutkan. Allah tidak pernah meninggalkan orang yang berjalan menuju-Nya, bahkan satu langkah kecil pun akan disambut dengan kasih-Nya yang luas.
Hijrah juga mengajarkan bahwa perubahan sejati tidak bisa dipaksakan kepada orang lain. Setiap orang memiliki waktunya sendiri untuk mendengar panggilan Allah. Maka, orang yang berhijrah sejati tidak menghakimi, tetapi menginspirasi. Ia tidak merasa lebih baik, tetapi lebih bersyukur karena Allah masih menuntunnya. Ia tidak memaksa orang lain untuk berubah, tetapi menunjukkan keindahan perubahan itu melalui akhlak dan kelembutan. Sebab, revolusi batin sejati melahirkan kebijaksanaan bahwa dakwah paling indah bukan melalui kata-kata keras, tetapi melalui ketulusan hati yang tenang.
Dunia hanyalah perjalanan singkat menuju kampung abadi. Maka setiap langkah, setiap napas, setiap keputusan kini diarahkan untuk satu tujuan: bertemu dengan Allah dalam keadaan yang diridhai. Inilah makna hijrah yang sesungguhnya, bukan sekadar berpindah dari gelap ke terang, tetapi dari kelalaian menuju kesadaran, dari ego menuju penyerahan total kepada cinta Ilahi. Seperti kata mutiara yang agung, “Hijrah bukan berarti aku telah menjadi baik, tapi aku sedang berjuang agar tidak kembali menjadi buruk.”
Hijrah bukan tentang siapa yang tampak lebih saleh, tetapi siapa yang lebih tulus mencintai Allah di dalam diam. Ia adalah perjalanan tanpa garis akhir, sebab setiap hari kita berhijrah dari kealpaan menuju keinsafan, dari kebanggaan menuju kerendahan hati. Dunia akan terus berubah, godaan akan terus datang, tapi hati yang telah direvolusi oleh cinta Ilahi tak lagi mudah goyah. Ia telah menemukan pusat gravitasinya Allah, satu-satunya tempat di mana hati akhirnya pulang.




